Penyebab Perubahan Peta Politik Suriah Timur

Peta terbaru yang memperlihatkan jatuhnya kota-kota yang sebelumnya dikuasai SDF hingga siang hari waktu Suriah menjadi penanda perubahan besar di kawasan timur negara itu. Perkembangan cepat ini memicu pertanyaan luas tentang mengapa struktur yang selama bertahun-tahun tampak kokoh tiba-tiba runtuh dalam waktu singkat.

Kemunduran SDF di timur Suriah bukanlah peristiwa militer yang berdiri sendiri. Banyak pengamat menilai proses ini merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang telah lama tertanam sejak fase awal pembentukan kekuatan tersebut.

Sejak awal, SDF dibangun sebagai koalisi milisi dengan pengalaman perang gerilya, bukan sebagai otoritas pemerintahan. Ketika pasukan ini beralih dari pertempuran bergerak ke pengelolaan kota-kota besar Arab pasca-2016, kelemahan mendasar mulai terlihat.

Keberhasilan militer awal yang dicapai di bawah perlindungan udara koalisi internasional menciptakan ilusi stabilitas. Namun, di balik itu, kapasitas administratif dan legitimasi sosial tidak tumbuh seiring luasnya wilayah yang dikuasai.

Dari sisi sumber daya manusia, berbagai estimasi Barat dan Amerika menyebut jumlah personel SDF pada puncaknya mencapai sekitar 60 ribu orang. Yang kerap luput disorot adalah fakta bahwa mayoritas pasukan tersebut berasal dari komunitas Arab sejak 2017.

Proporsi pejuang Arab diperkirakan melampaui 70 persen, terutama dalam dewan-dewan militer di Raqqa, Deir Ezzour, dan Manbij. Meski dominan secara jumlah, peran mereka dalam pengambilan keputusan strategis sangat terbatas.

Ketimpangan antara basis tempur dan struktur kepemimpinan ini menciptakan jurang kepercayaan yang kian melebar. Bagi banyak pejuang lokal, keterlibatan mereka lebih bersifat fungsional daripada representatif.

Krisis legitimasi semakin dalam ketika SDF mengangkat proyek politik bernuansa federal dan separatis. Narasi ini dipromosikan sebagai solusi permanen bagi timur Suriah, namun diterima berbeda oleh masyarakat setempat.

Klaim identitas yang menyebut sebagian besar wilayah Raqqa, Deir Ezzour, dan Hasakah sebagai kawasan berakar Kurdi memicu resistensi luas. Bagi komunitas Arab yang dominan, wacana tersebut dianggap sebagai pemaksaan identitas.

Penolakan tidak hanya datang dari masyarakat sipil, tetapi juga merembes ke dalam barisan pejuang Arab SDF sendiri. Ketidakselarasan antara proyek politik dan realitas demografis menjadi sumber ketegangan internal yang sulit diredam.

Di sisi lain, relasi SDF dengan struktur keagamaan lokal turut memperburuk situasi. Berbagai laporan mencatat pembatasan terhadap simbol dan praktik keagamaan yang dianggap asing bagi masyarakat konservatif setempat.

Dalam komunitas yang menjadikan agama sebagai fondasi identitas sosial, kebijakan semacam itu tidak dipandang sebagai isu budaya semata. Ia berubah menjadi pemicu konflik sosial yang mempercepat alienasi publik.

Ketergantungan pada dukungan eksternal menjadi faktor krusial berikutnya. Selama bertahun-tahun, SDF bertopang pada bantuan finansial dan militer koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat.

Dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS menunjukkan ratusan juta dolar dialokasikan setiap tahun melalui skema pendanaan kontra-terorisme. Dana ini menopang pelatihan, persenjataan, logistik, dan pembayaran gaji.

Model semacam itu menjadikan kohesi internal sangat bergantung pada kesinambungan dana dan payung politik luar. Ketika prioritas eksternal berubah atau dukungan melemah, struktur internal menjadi rapuh.

Selain bantuan asing, SDF menguasai ladang minyak, gas, dan gandum paling strategis di timur Suriah. Pendapatan dari sektor ini dalam beberapa periode diperkirakan mencapai ratusan juta dolar per tahun.

Namun, alih-alih menjadi motor pembangunan lokal, sumber daya tersebut justru dipersepsikan sebagai objek eksploitasi. Kebocoran pendapatan dan aliran dana ke jaringan di luar wilayah memperkuat kesan bahwa kekuasaan bersifat sementara.

Dengan aparat keamanan yang membesar, kebijakan penangkapan, serta praktik perekrutan paksa, beban sosial semakin berat. Kontrol wilayah berubah dari simbol stabilitas menjadi sumber tekanan sehari-hari bagi warga.

Ketika faktor-faktor ini bertemu dengan melemahnya perlindungan eksternal, runtuhnya kendali menjadi sulit dihindari. Loyalitas yang dibangun di atas gaji dan ketakutan terbukti tidak bertahan lama.

Yang runtuh di timur Suriah bukan semata garis pertahanan militer, melainkan sebuah model kekuasaan. Kekuatan bersenjata besar, dana melimpah, dan senjata modern tidak mampu menggantikan legitimasi sosial yang hilang.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa kontrol wilayah tanpa akar penerimaan masyarakat hanya menunda kejatuhan. Dalam dinamika Suriah timur, angka dan senjata akhirnya kalah oleh realitas identitas, kepercayaan, dan legitimasi.

Share on Google Plus

About Redaksi

Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus dan melintasi penjuru langit dan bumi, maka tembus dan lintasilah! Kamu tidak akan dapat menembus dan melintasinya kecuali dengan kekuatan..
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment